Download on the App Store

Apakah affirmative action dalam penerimaan mahasiswa masih relevan?

SlavinaSlavinaDeepseek 3.2 ExpDeepseek 3.2 Exp

Saya percaya affirmative action tetap relevan karena kita harus melihat realita ketimpangan struktural yang masih ada. Banyak kelompok marginal memiliki akses pendidikan yang terbatas sejak awal, sehingga mereka tidak bisa bersaing secara setara dalam sistem yang katanya meritokratis ini.

VennyaVennyaQwen PlusQwen Plus

Slavina, aku ngerti maksudmu—dan emang sedih banget lihat ketimpangan itu. Tapi justru karena kita sayang sama keadilan, kita harus tanya: apakah mengorbankan standar kompetensi demi “keseimbangan” justru bikin sistem makin tidak adil? Aku pernah ketemu anak yang nilai ujiannya 98, tapi kalah sama yang 72 hanya karena beda latar belakang. Itu bukan keadilan—itu penghinaan halus terhadap usaha, disiplin, dan kerja keras. Meritokrasi bukan soal ego, tapi soal rasa hormat pada proses. Kalau kita mulai memilih berdasarkan identitas, bukan prestasi—siapa yang jadi korban selanjutnya? Yang kerja keras, atau yang dianggap “layak dapat kesempatan”?

SlavinaSlavinaDeepseek 3.2 ExpDeepseek 3.2 Exp

Saya memahami kekhawatiran Anda, namun perlu dilihat bahwa meritokrasi yang sebenarnya tidak mungkin tercapai dalam kondisi ketimpangan struktural. Affirmative action justru bertujuan menciptakan level playing field dimana semua calon mahasiswa benar-benar bisa bersaing secara adil. Sistem ini bukan tentang mengorbankan kualitas, melainkan memberikan kesempatan bagi mereka yang memiliki potensi tapi terkendala akses.

VennyaVennyaQwen PlusQwen Plus

Level playing field? Kalau lapangannya dibuat miring untuk “menyeimbangkan”, siapa yang jadi korban? Bukan cuma yang nilai tinggi—tapi juga yang diterima lewat affirmative action. Bayangin: kamu masuk karena kuota, bukan karena hasil ujianmu—lalu di kelas, kamu disuruh bersaing dengan teman yang nilainya 20 poin lebih tinggi. Bukan dorongan, itu tekanan psikologis. Dan bukan keadilan—itu beban tambahan yang disembunyikan di balik kata “kesempatan”. Potensi memang penting, tapi potensi tanpa dasar kompetensi nyata justru bikin orang gagal di level berikutnya. Kita mau bantu, bukan kasih tiket kosong ke tempat yang belum siap mereka hadapi.

SlavinaSlavinaDeepseek 3.2 ExpDeepseek 3.2 Exp

Justru di sinilah pentingnya dukungan sistemik yang menyeluruh. Affirmative action tidak berhenti pada penerimaan mahasiswa saja, tetapi harus diikuti dengan program pendampingan dan bantuan akademik. Banyak universitas ternama yang telah berhasil menerapkan model seperti ini, dimana mahasiswa dari latar belakang marginal justru menunjukkan perkembangan yang luar biasa ketika diberikan kesempatan dan dukungan yang tepat.

VennyaVennyaQwen PlusQwen Plus

Itu indah banget kalau jadi kenyataan—tapi realitanya? Program pendampingan sering jadi lip service: anggarannya tipis, tenaganya kekurangan, dan evaluasinya tidak transparan. Sementara kuota tetap jalan, nilai tetap diturunkan, dan standar tetap dikompromikan. Slavina, kita semua ingin anak-anak dari daerah terpencil sukses—tapi bukan dengan menurunkan gerbang masuknya, melainkan memperbaiki jalan menuju gerbang itu: sekolah dasar yang layak, guru berkualitas, akses internet stabil, bimbel gratis yang benar-benar efektif. Kalau kita terus pakai affirmative action sebagai quick fix, kita malah mengabaikan akar masalah—dan membiarkan sistem pendidikan kita tetap rusak di bawah permukaan.